Tulisan 5. Sebuah Akhir
3 Maret 2023
Halo, Cinta Pertama.
Ini adalah part 2 dari ceritaku, setelah semua usaha yang aku lalui di hari ulang tahun kamu yang aku publish sebelum part ini. Cerita ini aku tulis 2 bulan 2 minggu setelah hari itu, aku bisa menulis part ini karena semua sudah selesai.
Aku tau kamu tidak akan pernah menemukan tulisan ini, karena aku tau kamu tidak sepeduli itu dengan aku. Iya, ini aku. Perempuan yang tidak ada bosannya menyebut nama kamu di cerita hidup dan doanya. Perempuan yang sering dituduh tolol oleh teman-teman dan adik-adiknya hanya karena dia sangat menyayangi kamu lebih dari yang dia tau.
Sudah tidak terhitung berapa judul yang aku buat hanya untuk menulis cerita tentang kamu. Mulai dari pertemuan kita, perpisahan yang kamu buat, aku yang masih berusaha melawan doaku sendiri, kita kembali bertemu, hingga hari ini aku kembali hancur lagi.
Aku tau perkenalan kita memang bukan di tempat yang dianggap normal oleh orang awam, bahkan harusnya aku tidak kesana. Entah lah, kenapa Tuhan menulis bagian ini di hidupku. Kesan pertamaku ke kamu juga tidak terlalu bagus, tapi aku suka dengan kegigihan kamu. Aku pikir saat itu langkahku sudah benar, aku tidak pandai memprediksi masa depan bahkan untuk sebuah kemungkinan pun aku sering salah.
Dan benar saja, walaupun semua berjalan lancar di awal tapi siapa yang akan tau dimana ujung pelangi akan jatuh? Tidak selalu di danau atau kotak penuh berlian seperti dongeng yang aku baca, bisa jadi di tanah biasa atau malah di tempat yang tidak pernah terbayangkan. Aku tidak membayangkan kalau kamu meminta untuk selesai, dengan taburan kismis yang membuat aku masih berharap masih ada rasa manis.
Kamu tau saat kita masih baik-baik saja padahal sudah kamu akhiri? Aku terpukul dan bahagia karena kamu masih disini. Aku masih ada di dekat kamu. Kita masih berkomunikasi dengan baik. Entah sejak kapan aku merobohkan tembok tinggi dan menjatuhkan perasaan itu ke kamu. Aku hanya ingin ada di dekat kamu dan tau bagaimana kabar kamu. Dan ternyata itu hal yang berlebihan untuk sebuah pertemanan dari 2 orang yang pernah saling menyukai. Ah bukan pernah, aku masih menyukai kamu sih. Entah bagaimana dengan kamu saat itu.
Lalu.. bagaimana jika bahkan kabar kamu pun tidak bisa aku jangkau? Bagaimana jika tiba-tiba kamu menghilang dan tidak lagi ingin bertukar kabar dengan aku? Hancur, mas. Ketika kamu tidak peduli dengan aku menggunakan cara yang sangat jahat. Sendirian aku berusaha melupakan kamu selama nyaris satu tahun. Kamu tau bagaimana lelahnya aku menangis dan meminta kepada Tuhan untuk menguatkan aku, memberi rasa ikhlas bahkan aku sudah sangat menyerah ketika tidak ada lagi yang bisa aku minta. Aku hanya akan pasrah atas apa yang diberikan Tuhan untuk hatiku kala itu. Entah dibiarkan tetap mencintai kamu, bisa merelakan jalan yang bercabang, atau yang lain, aku sudah tidak mampu meminta ataupun memilih lagi.
Di fase ini, dimana setiap ibadah aku masih menangisi kamu, tanpa aku tau, ternyata kamu sudah bahagia dengan orang lain. Aku pernah bermimpi di bulan yang sama kalau kamu sudah memiliki orang baru, aku bahkan masih menulis rinci detail mimpi hingga nama orang itu. Aku kira ini hanya bunga tidur. Apa aku bilang, aku tidak pandai dalam hal perkiraan.
Masih di bulan yang sama, aku kembali bermimpi kamu menghubungi aku lagi. Kita berkirim pesan, bahkan kamu bilang ingin kembali seperti dulu. Aku tidak tau dengan "dulu" yang kamu maksud adalah kondisi seperti apa. Sudah 6 bulan sejak aku tersiksa atas kepergian kamu. Lagi-lagi aku mengira ini hanya bunga tidur.
Suatu ketika, hal yang paling aku sesali dan menjadi pembuka pikiran ku. Sedekat apapun kita, jika Tuhan belum mengizinkan untuk bertemu maka tidak akan terjadi. Sore itu, saat kamu memberi kabar sedang berhenti di stasiun kotaku. Ingat tidak? Aku menangis sejadi-jadinya karena aku terlambat membuka pesan kamu, harusnya aku bisa berlari kesana untuk sekedar melambaikan tangan dan melepas rindu meski akan terhalang kaca dan dan pagar pembatas. Iya, serindu itu aku kepada kamu. Tanpa peduli pada saat itu kamu bahkan tidak menjadikan aku salah satu daftar dalam pesan kamu. Tolol ya aku.
Entah lah mas, aku bahkan tidak ingat bagaimana kita kembali menyapa. Kamu yang sudah tidak mengikuti sosial media ku tiba-tiba muncul di permintaan kembali, profile kamu yang dulu kosong tiba-tiba muncul gambar sunset yang entah dari kapan aku mulai tidak menyukai sunset. Kamu yang tiba-tiba melihat cerita-cerita yang aku pampang, kamu yang tiba-tiba menyimpan kembali semua nomorku. Rasanya begitu cepat.
Sampai akhirnya aku merasa sedikit lelah dengan alur yang kamu buat. Ya, kamu masih sama seperti dulu. Tujuan jangka pendek dan tergesa-gesa. Tapi aku juga masih bodoh, berharap ada yang bisa aku dapatkan kembali.
Di bulan kelahiran kamu, aku bertekad mengakhiri semua yang masih tersisa dan menumpuk. Aku sama sekali tidak berencana untuk bertemu kamu walaupun semua wish-list ku di kota kamu adalah tempat yang sering kamu kunjungi. Iya, aku masih berharap ada 0,000000sekian persen kesempatan untuk bertemu kamu walaupun tidak sengaja. Dan untuk hasilnya, aku sudah pasrah.
Oho, tapi bukan aku kalau masih tau diri dan tidak nekad. Bukankah sebelum berserah harus berusaha? Banyak hal yang harus aku singkirkan hingga akhirnya kita bertemu. Iya. Bertemu kamu lagi. Setelah 10 bulan aku menahan rasa rindu yang tidak pernah tersampaikan dengan baik. Sangat tidak mudah mendapatkan 10 jam itu. Jawaban dari mimpiku yang kenapa baru aku terima 2 hari sebelum aku berangkat dan sukses membuat hatiku kembali hancur tanpa tau bagaimana cara berhenti menangis, kamu yang tiba-tiba membatalkan, dan aku hanya bisa pasrah. Tapi lagi-lagi aku harus memaksakan takdir yang bahkan kamu sendiri enggan untuk melewati.
Dan pada akhirnya aku bisa menemui kamu. Kamu sama sekali tidak berbeda, cara kamu memperlakukan aku, cara kamu berbicara, yang berbeda hanya langkah kamu yang semakin cepat dan kamu yang lebih memahami aku daripada dulu. Tentu saja kebiasaan kamu untuk membawaku kembali ke cerita masa lalu kamu atau bisa kita sebut mantan, masih ada. Kamu bahkan mengajak aku ke tempat yang sering kalian kunjungi. Aku mengingat setiap detail hari itu seakan tidak akan bisa aku dapatkan lagi. Sunset, senyum kamu, timeline dan cincin di jari kelingking kanan kamu. Aku membuat dokumentasi sebanyak mungkin agar tidak mengulang kesalahanku dulu, terlalu menikmati momen hingga tidak ada jejak yang aku ambil.
10 jam berlalu sangat cepat walaupun rasanya aku ingin menghentikan waktu. Dan akhirnya kita menghabiskan waktu dengan berbicara di tempat dimana kita bisa saling bertukar kabar dengan baik dan tenang, bahkan aku sempat bercerita tentang kamu yang muncul di mimpiku dan kamu yang kaget kalau ternyata mimpiku benar terjadi saat itu, hanya saja nama orangnya salah.
Walaupun sedikit perih mendengarnya, aku akui aku sangat bahagia saat itu mas. Bahkan kita saling bertukar cincin yang hari itu kita pakai. Cincin dari peninggalan ibuku. Kamu bilang, cincin silver kamu adalah cincin yang membutuhkan beberapa tahap resmi dari sebuah instansi pendidikan untuk mendapatkannya. Aku sama sekali tidak sanksi, karena yang ada di pikiranku saat itu hanya kamu. Aku bersama kamu, orang yang sangat aku rindukan.
Aku juga memberanikan diri bertanya alasan kamu kembali.
"Aku tidak menemukan yang sebaik kamu, aku takut kamu sudah dimiliki orang lain."
Kalimat yang sangat tidak aku duga akan kamu ucapkan. Jika kamu takut kehilangan aku kenapa kamu meninggalkan aku?
"Maaf ya, aku jahat sama kamu."
Lagi, kalimat yang sangat tidak aku duga bisa aku dapatkan. Kata yang sangat ingin aku dengar selama 10 bulan penantian. Maaf.
Aku juga mendapat kepastian kalau kamu tidak bersama siapapun saat itu, jadi aku sangat lega karena setidaknya tidak melukai perempuan lain dengan cara menyita waktu kamu.
Akhirnya aku kembali ke kotaku dengan banyak sekali cadangan endorphin. Aku kira sudah selesai sampai di sana, ternyata aku mendapat lebih. Entah ini hanya test dari Tuhan atas janjiku atau apa, saat itu aku tidak terlalu peduli. Aku kehilangan fokus ke segala macam situasi di sekitarku saat dihadapkan dengan kamu.
Kamu sering menghabiskan waktu dengan aku, bahkan lebih sering dan lebih baik dibandingkan dengan chapter 1 di kuartal pertama tahun 2022, sebelum kamu menghilang. Di sini pula awal aku akan kembali mengulang kesalahan, di kuartal pertama tahun 2023.
Waktu yang paling aku suka adalah FHCI batch 2. Iya, aku dulu sangat suka saat kamu membahas materi-materi yang bisa kita gunakan berpikir sebelum tidur. Aku sangat ingin belajar bersama karena dulu kamu sudah menghilang bahkan sebelum kita maju di FHCI batch 1.
Sayangnya, aku harus gugur ke tahap 2. Tapi, aku bersyukur kamu lolos. Kamu bilang ingin mendapatkan yang lebih baik dari sekarang. Kamu tau? Setiap ibadah aku berdoa agar apa yang kamu cita-cita kan dikabulkan oleh Tuhan.
"Ajari aku materi ini, dong? Kamu kan jago."
Mungkin jika kita ditakdirkan bersama, hal yang akan sering kita lakukan by my request adalah belajar, mas. Belajar bersama kamu adalah impianku dari dulu. Tidak kamu minta sekalipun aku akan senang melakukannya.
Tapi siapa yang sangka kalau apa yang selama ini aku inginkan dan sudah terpenuhi akan menjadi pemutus kebahagiaanku?
Hari itu terakhir kita belajar menggunakan Google-meet. Entah kenapa kamu yang biasanya menggunakan laptop berubah menggunakan HP dengan share screen. Takdir Tuhan mungkin, karena detik-detik aku sedang pusing memikirkan jawaban dari soal yang kamu tampilkan tiba-tiba muncul notifikasi di layar yang kamu bagikan. Seorang dengan gambar profile cantik bernuansa pink, mengirim video ke kamu.
Kamu tau rasanya bagaimana, mas? Aku yang saat itu bersemangat membantu kamu agar bisa lolos mencapai keinginan kamu tiba-tiba mendapat balasan seperti itu? Hancur yang tidak bisa digambarkan sehancur apa. Aku tau kamu menyadarinya, bahkan mungkin kamu sengaja karena sedikitpun kamu tidak beranjak untuk menghapus notifikasi itu.
Maaf juga karena aku lancang ikut melihat saat kamu menutup galeri. Banyak sekali foto yang sejenis dengan yang dulu sering kamu kirimkan ke aku. Foto makanan di restoran favorite kamu. Untuk siapa foto itu? Aku tau kamu bukan tipe yang sering memberi kabar orang tua untuk hal sesepele itu.
Mungkin Tuhan mulai memberi jawaban saat itu, sekaligus menagih janji.
Aku memutuskan untuk menarik diri dari kamu tetapi kamu masih berusaha menjangkau aku. Hingga setelah kamu selesai mengucapkan doa untuk hadiah ulang tahunku, kita benar-benar kehilangan komunikasi lagi. Dan aku kembali berusaha sendiri untuk bangkit, membiasakan diri tanpa kamu setelah apa yang kita lalui kemarin. Setiap hari tidak luput doa dan air mata yang aku langitkan.
Aku diam selama 1 bulan, bahkan saat pikiranku berkecamuk ingin tau siapa perempuan itu. Iya, tidak semudah itu mendapatkan apa yang aku cari. Sedikit banyak aku tertolong dengan latar belakang profesiku walaupun membutuhkan banyak waktu. Tapi aku mendapatkannya. Semua.
Aku masih belum bisa mendapat titik terang, padahal seharusnya aku bisa belajar dari pengalaman tahun lalu. Mimpi-mimpi tentang kamu dan perempuan itu terasa sangat nyata tapi aku selalu denial. Hingga suatu ketika aku membuka nomor ku yang sudah lama tidak aku gunakan. Banyak hal yang aku lupakan disana yang tiba-tiba muncul, aku hanya iseng membukanya kembali. Tau apa yang aku temukan?
Persiapan pernikahan kamu di kota tempat perempuan itu tinggal.
Doa ku kalah bertarung dengan doa kalian berdua yang dipertemukan di langit.
Mas, harus berapa kali aku hancur?
Aku bahkan tidak tau bagian mana yang sakit tapi air mataku terus menetes tanpa henti malam itu. Kepalaku sangat berisik tapi mulutku tidak sanggup berkata-kata. Badanku gemetar hebat.
Aku memutar semua memori dan menyusun timeline yang aku lalui dari Desember 2022 hingga akhir Februari 2023 dimana aku masih menemukan kamu memiliki akun di dating apps. Kamu jadikan apa aku selama ini, mas? Kamu sejahat itu bahkan dengan perempuan yang sebentar lagi menjadi bagian dari kehidupan kamu.
Sedetail ingatanku, 2 bulan lalu kamu bilang belum siap menikah lalu hari ini kamu menyiapkan pernikahan dengan orang lain? Lantas.. apa yang akan kamu lakukan dengan janji kamu kepadaku? Apa yang harus aku lakukan?
Dengan segala kekuatan dan keberanian, aku mengirim 3 pesan panjang ke kamu. Aku tau kamu tidak akan membacanya. Aku memutuskan untuk menutup semua akses ke kamu. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang saat itu aku rasakan. Sakit. Kecewa. Marah. Menyerah. Hancur.
Kamu tau, aku mempunyai semua yang bisa memberitahu lelaki macam apa kamu ke perempuan itu. Kamu tau sebesar apa rasa marahku bahkan aku tidak ragu untuk mengirimkannya detik ini juga. Kamu tau, perempuan ini yang dulu sangat menyayangi kamu dan tidak mau melihat kamu sedih sedikitpun, sekarang sangat ingin mengambil mesiu terakhirnya agar kamu merasakan hancur yang sama. Kamu tau jika beberapa orang jahat muncul dari orang-orang tulus yang tersakiti?
"Jangan lakukan. Mereka mungkin akan hancur, tapi apakah kamu sanggup jika dia membenci kamu? Itu tidak akan membuat dia kembali ke kamu. Tidak akan sepadan."
"Jangan lakukan, Tuhan tidak sedikitpun menutup mata. Just sit down and relax."
People come and go. Banyak sekali yang merangkul aku saat ini, mas. Bahkan orang-orang yang dulu hilang, mereka kembali hanya untuk memastikan aku baik-baik saja walaupun sebenarnya tidak akan bisa. Aku pikir kamu harus berterima kasih kepada mereka walaupun setiap hari mereka selalu mengutuk perlakuan kamu ke aku, mereka masih memikirkan kehidupan kamu.
Jika suatu saat perempuan itu menemukan kisah tentang kamu yang aku tulis ini, entah terlambat atau tidak.. aku masih disini.
Aku sangat hancur, mas. Kehilangan ibu ku 8 tahun lalu rasanya menemukan saingan sakit yang hampir sebanding. Aku kehilangan wanita yang melahirkan ku hanya 1x seumur hidup, tapi kamu memberi luka berkali-kali. Mas, suatu saat air mata ku akan meminta semuanya ke hadapan Tuhan atas perlakuan kamu.
Cerita ini diakhiri dengan rasa kecewa yang hebat dari perempuan yang pernah mencintai kamu dengan tulus.
Selesai.
Komentar
Posting Komentar